MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA “Pengertian, Ruang Lingkup, dan Sejarah Perkembangan Psikologi Agama”
MAKALAH
PSIKOLOGI AGAMA
Semester IV A
“Pengertian, Ruang Lingkup, dan Sejarah Perkembangan
Psikologi Agama”
Dosen : D.
Siska Amaliyah, M.Pd.I
Disusun Oleh :
Kelompok 1
Asep Sobandi
Ai Nurhayati
Ajeng Sri
Rahayu
Wafa Sania
SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
AL-AZAMI CIANJUR
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullahi
Wabarokaatuh
Segala puji
dan syukur kami sampaikan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam juga
disampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Serta sahabat dan
keluarganya, seayun langkah dan seiring bahu dalam menegakkan agama Allah.
Dengan kebaikan beliau telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang
berilmu pengetahuan.
Dalam rangka melengkapi tugas dari
mata kuliah PSIKOLOGI AGAMA pada Program Studi PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(PAI) dengan ini kami mengangkat judul “Pengertian, Ruang Lingkup, dan
Perkembangan Psikologi Agama”.
Dalam penulisan makalah ini, Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari cara
penulisan, maupun isinya.
Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan kritikan dan saran-saran yang dapat membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi
Wabarokaatuh
Cianjur, 09 Februari 2021
Kelompok 1
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR
ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.
Tujuan....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 2
A.
Pengertian
Psikologi Agama..................................................................... 2
B.
Ruang Lingkup Psikologi
Agama............................................................. 3
C.
Sejarah
Perkembangan Psikologi Agama.................................................. 4
BAB
III PENUTUP............................................................................................ 14
A.
Simpulan................................................................................................... 14
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................ 15
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hubungan
manusia dengan sesuatu yang dianggap adikodrati (supernatural) memiliki latar
belakang sejarah yang sudah lama dan cukup panjang. Latar belakang ini dapat
dilihat dari berbagai pernyataan para ahli yang memiliki disiplin ilmu yang
berbeda. Begitu juga dengan para agamawan dari berbagai agama yang ada
mengemukakan bahwa berdasarkan informasi kitab suci, hubungan manusia dengan
zat yang adikodrati digambarkan sebagai hubungan antara makhluk ciptaan dengan
Sang Pencipta.
Kemudian
para psikolog mencoba melihat hubungan tersebut dari sudut pandang psikologi.
Menurut mereka hubungan manusia dengan kepercayaannya ikut dipengaruhi dan juga
mempengaruhi faktor kejiwaan. Proses dan sistem hubungan ini menurut mereka
dapat dikaji secara empiris dengan menggunakan pendekatan psikologi. Menurut
agamawan selanjutnya, bahwa memang pada batas-batas tertentu, barangkali
permasalahan agama dapat dilihat sebagai fenomena yang secara empiris dapat
dipelajari dan diteliti.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah untuk mengetahui :
1.
Apa yang Dimaksud dengan Psikologi Agama?
2.
Bagaimana Ruang Lingkup Psikologi Agama?
3.
Bagaiamana
Sejarah Perkembangan Psikologi Agama?
C.
Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.
Pengertian Psikologi Agama
2.
Ruang Lingkup Psikologi Agama
3.
Sejarah
Perkembangan Psikologi Agama
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata yaitu psikologi
dan agama. Psikologi berasal dari bahasa yunaniyaitu “Psyche”dan “logos”.
“Psyche” yang artinya jiwa dan“logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi,
psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa baik mengenai macam-macam
gejalanya, proses maupun latar belakang.
Psikologi secara etimologi mengandung arti ilmu
tentang jiwa. Dalam Islam kata jiwa disamakan dengan“an-nafsu” namun ada juga
yang menyamakan dengan istilah “ar-ruh”. Tetapi istilah “an-nafsu” lebih
popular dari pada istilah“ar-ruh”,
karena psikologi dalam bahasa arab lebih popular diterjemahkan dengan
ilmu an-nafsu dari pada ilmu ar-ruh. Dalam Al-Quran surat Al-Fajrayat 27-30
disebutkan, kata an-nafsu berarti jiwa.
يَٰأَيَّتُهَاٱلنَّفْسُ
ٱلْمُطْمَئِنَّة. ٱرْجِعِى إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً. فَٱدْخُلِى فِى
عِبَٰدِى. وَٱدْخُلِى جَنَّتِى.
Artinya :
“Haijiwa yang tenang. Kembalilah kepadaTuhanmu dengan hati
yang puas lagi diri dari-Nya. Maka masuklah kedalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuk
lah kedalam surga-Ku”.(QS. Al-Fajr : 27-30)
Psikologi agama menurut Jalaludin menggunakan dua
kata, yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang
berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala
jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.
Psikologi menurut Zakiah Darajat, meneliti pengaruh agama terhadap sikap
dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena
cara orang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak dapat
dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi
kepribadiannya.
Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang
psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan
dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya
dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku
keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelahaan
tersebut merupakan kajian empiris.
B.
Ruang Lingkup
Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang
lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang
mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya
psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh
berbeda. Yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan
metode-metode peneliti yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya
adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya pada
agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman
dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi
agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless (dalam Jalaludin) memusatkan
kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu
sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut
dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Menurut Zakiah Daradjat (dalam Jalaludin, 2001: 16), menyatakan
bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan
dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai
hasil dari keyakinan. Oleh karena itu, menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup
yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai :
1.
Bermacam-macam
emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama
orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram setelah shalat, rasa lepas
dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci Al-Qura’an,
perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah
ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2.
Bagaimana
perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya
rasa tenteram dan kelegaan batin.
3.
Mempelajari,
meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati
(akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.
Meneliti dan
mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan
dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh
terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.
Meneliti dan
mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci,
kelegaan batinya.
C.
Sejarah
Perkembangan Psikologi Agama
Ternyata seabad setelah psikologi diakui sebagai disiplin ilmu yang
otonom, para ahli melihat bahwa psikologi pun memiliki keterkaitan dengan
masalah-masalah yang menyangkut kehidupan batin manusia yang paling dalam,
yaitu agama. Kajian-kajian khusus mengenai agama melalui pendekatan psikologis
ini sejak awal-awal abad ke-19 menjadi kian berkembang, sehingga para ahli
psikologi yang bersangkutan melalui karya mereka telah membuka lapangan baru
dalam kajian psikologi, yaitu psikologi agama.
Dan yang mula-mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara
ilmiah tentang agama ialah Frazer dan Taylor. Kedua tokoh ini membentangkan
berbagai macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara
berbagai bentuk ibadah pada agama Kristen dan ibadah agama-agama primitif.
Selanjutnya, pendekatan ilmiah terhadap psikologi agama baru dimulai pada tahun
1881, ketika G. Stanley Hall sebagai salah seorang ahli psikologi pada masa itu
mempelajari peristiwa konversi agama dan remaja.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa ahli yang mempunyai peranan
penting dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan psikologi agama :
1.
Edwin Diller
Starbuck
Dapat dikatakan bahwa gerakan baru terhadap penelitian ilmiah dalam
bidang Ilmu Jiwa Agama dimulai dengan tegas pada tahun 1899 yaitu dengan
keluarnya buku Starbuck pada tahun 1988 yang berjudul “The psychology of
Religion, an Empirical Study of the Growth of Religious Consciousness” buku
yang mengupas pertumbuhan perasaan agama pada seseorang.
Starbuck
merupakan murid dari William James, akan tetapi ilmunya tentang Ilmu Jiwa Agama
melampaui gurunya. Sehingga dapat dikatakan perhatian James timbul dan
berkembang karena hasil karya muridnya.
2.
George Albert
Coe
Dia menggunakan hypotis dalam usahanya untuk mencari hubungan
antara reaksi-reaksi agamis dengan watak (temperamen). Bukunya terbit pada
tahun 1900 dengan judul “The Spiritual Live”. Dalam bukunya ia menekankan
tentang konversi.
3.
James H Leuba
Ia
termasuk orang yang pertama kali meneliti agama dari segi ilmu jiwa. Ia
mempunyai pandangan objektif, sehingga ia berusaha keras untuk menjauhkan ilmu
jiwa agama dari unsur-unsur kepercayaan. Ia berpendapat bahwa tidak ada gunanya
mendefinisikan agama, karena itu hanya merupakan kepandaian orang bersilat
lidah. Pendapatnya pernah dimuat di dalam The Monist vol. XI Januari 1901
dengan judul “Introduction to a Psychological Study of Religion”. Kemudian pada
tahu 1912 diterbitkannya buku dengan judul “A Psychological Study of Religion”.
4.
Stanley Hall
Stanley
hall juga menggunakan cara-cara yang sama dengan Leuba dalam menerangkan
fakta-fakta agamis, yaitu dengan tafsiran materaialistis. Dalam penelitiannya
terhadap remaja-remaja pada tahun 1904, ditemukan persesuaian antara
pertumbuhan jiwa agama pada tiap individu, dengan pertumbuhan emosi dan
kecenderungan terhadap jenis lain. Maka umur dimana jiwa mulai terbuka untuk cinta,
maka pada umur itu pulalah timbul perasaan-perasaan agama yang ekstrim.
Pendapat-pendapatnya tersebut terdapat dalam bukunya “Adolescence”, vol II ch.
XIV dan “Jesus the Christ”, 1917.
5.
William James
Karyanya
dalam ilmu jiwa agama adalah “The Varieties of Religion Experience”. Karyanya
tersebut memberikan semangat banyak ahli dalam mengadakan penelitian-penelitian
di bidang ilmu jiwa agama. Pada tahun 1904 mulai terbit majalah “The Journal of
Religious Psychology” dan The American Journal of Religious Psychology and
Education” yang berlangsung sampai tahun 1915.
James
berpendapat bahwa seorang ahli jiwa akan dapat meneliti dorongan-dorongan agama
pada seseorang seperti mempelajari dorongan-dorongan jiwa lainnya dalam
konstruksi pribadi orang tersebut. Hanya saja James menghidangkan bahan-bahan
ilmiah yang berharga itu, sekedar bersifat deskriptif saja.
6.
George M.
Stratton
Pada
tahun 1911 terbit buku “Psychology of Religious Life” yang ditulis oleh George
M. Stratton. Pendapat yang dikemukakannya cukup menarik perhatian, dimana ia
berpendapat bahwa sumber agama adalah konflik jiwa dalam diri individu.
7.
Fluornoy
Pada
tahun 1901 Fluornoy berusaha mengumpulkan semua penelitian psikologis yang
pernah dilakukan terhadap agama, sehingga dapat disimpulkannya cara-cara dan
metode yang harus digunakan dalam meneliti fakta-fakta tersebut. Diantara
prinsip-prinsip yang harus digunakan tersebut adalah :
a.
Menjauhkan
penelitian dari Transcendance
b.
Prinsip
mempelajari perkembangan
c.
Prinsip
perbandingan
d.
Prinsip
dinamika
8.
James B. Pratt
James
B Pratt menerbitkan bukunya “The Religious Consciousness” pada tahun 1920.
Walaupun sebenarnya ia adalah guru besar dalam ilmu filsafat.
9.
Rudolf Otto
Di
Jerman terbit pula buku “Das Heilige” oleh Rudolf Otto yang kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1923. Yang terpenting dalam buku
itu adalah pengalaman-pengalaman psikologis dari pengertian kesucian, yang
diambilnya sebagai pokok dalam hal ini adalah sembahyang. Buku yang cukup
menarik untuk zamannya.
10.
Pierre Bovet
Pada
tahun 1918 ia adalah mahasiswa di Akademi “J.J Rousseou”, bahwa ia mengadakan
penelitian terhadap dokumen-dokumen yang ada padanya sehingga hasilnya
dikumpulkan dalam suatu buku yang berjudul “Le Sentiment Religieux et la
Psychologie de L’Enfart”.
11.
Emile Durkheim
Seorang
sosiolog Perancis yang juga menulis buku dengan judul “The Elementary Form of
the Religious Life”. Buku tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
perkembangan psikologi agama.
12.
Pierre Bovet
Pada
tahun 1918 beliau menerbitkan buku Le Sentiment Religieux et la Psychologie de
L’Enfant. Buku tersebut membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan.
13.
Robert H.
Thouless
Pada
tahun 1923 beliau menerbitkan sebuah buku dengan judul An Introduction to the
Psychology of Religion dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
judul Pengantar Psikologi Agama. la menegaskan bahwa agama dapat dipelajari
dari segi psikologis dan penelitian ilmiah terhadap keberagamaan individu tidak
akan menghilangkan keyakinan beragama individu tersebut.
14.
Sigmund Freud
Beliau
di kenal orang sebagai bapak psikoanalisis yang lebih mengarahkan pandangannya
terhadap aspek sosial dari agama. Misalnya, ia menganalisis upacara keagamaan
yang dilakukan oleh pemeluk kepercayaan primitif dengan istilah totem dan
taboo.
Minat
dan perhatian para pakar yang tertarik dengan psikologi agama semakin
berkembang dan memunculkan berbagai hasil karya ilmiah. Antara lain, Karl R.
Stolz dengan judul bukunya The Psychology of Religion Lifing yang terbit tahun
1937, Elizabeth B. Hurlock yang menyinggung pertumbuhan jiwa agama pada anak
dalam bukunya Child Development yang terbit tahun 1942, Paul E. Johnson dengan
bukunya Psychology of Religion yang terbit tahun 1945. Kemudian Gordon W
Allport dengan bukunya The Individual and His Religion yang terbit tahun 1950,
W.H. Clark dengan karyanya The Psychology of Religion pada tahun 1958 dan pada
tahun 1969 telah mengalami ulang cetak sebanyak sepuluh kali. Dimana
masing-masing buku tersebut membahas perkembangan jiwa beragama sejak kecil
hingga dewasa.
Di
indonesia tulisan mengenai psikologi agama baik yang di tulis oleh orang islam
maupun non islam pada saat ini sudah mulai bermunculan dan mengenai psikologi
agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970 an yaitu oleh :
1.
Prof. Dr.
Zakiah Daradjat.
Ada
sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa
di lingkungan IAIN. Diluar itu, kuliah mengenai psikologi agama juga sudah
diberikan, khususnya di fakultas tarbiyah oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali dan Prof.
Dr.Zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor
pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
2.
Ismail Raji
Al-Faruqi,
Menurut
Al-Faruqi pengetahuan modern menyebabkan adanya pertentangan wahyu dan akal
didalam umat Islam,serta adanya dualisme kultural dan religius. Karena itu
diperlukan islamisasi ilmu dan upaya itu harus beranjak dari tauhid, masih
menurut Al Faruqi, ilmu pengetahuan islamisasi selalu menekankan adanya
kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan, serta kesatuan
hidup. Kalau seseorang mempelajari ilmu yang berbasis sekulerisme, maka sangat
mungkin pandangan-pandangannya juga sekuler. Hal demikian terjadi karena ilmu
yang dipelajari seseorang membentuk kerangka berpikirnya.
Al-Faruqi
mengatakan bahwa islamisasi ilmu dapat diwujudkan dengan melakukan upaya-upaya
yang mengarah kepada merelevankan dan mensintesakan antara islam dan ilmu
pengetahuan modern. Secara praktis Nashori sependapat dengan Al-Faruqi,
menurutnya saat ini umat islam menghadapi kekalahan dalam penguasaan ilmu. Kita
akan selalu kalah kalau ilmu yang ada sekarang ini, tidak kita gali, pelajari
dan manfaatkan karena itu, agar umat islam tidak terus-menerus ketinggalan dan
semakin jauh ketinggalan, maka ilmu pengetahuan modern juga harus dipelajari
dan setelah itu disintesakan dengan islam.
Sebagai
penggagas utama ide islamisasi ilmu, Ismail Raji Al-Faruqi telah mencoba
membentangkan gagasannya tentang bagaimana islamisasi itu dilakukan. Al-Faruqi
menetapkan ilmu sasaran dari rencana kerja islamisasi ilmu, yaitu :
a.
Menguasai
displin-disiplin modern.
b.
Menguasai
khazanah islam.
c.
Menentukan
relevansi islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern.
d.
Mencari
cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah islam dengan khazanah
ilmu pengetahuan modern.
e.
Mengarahkan
pemikiran islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola
rancangan Allah.
3.
Hanna Djumhana
Bastaman
Menurut
Bastaman, ada beberapa istilah pola pemikiran “Islamisasi Sains”, mulai dari
bentuk paling superfisial sampai dengan bentuk yang agak mendasar, yaitu:
a.
Siilarsasi,
yaitu menyamakan begitu saja konsep-konsep sains yang berasal dari agama,
padahal belum tentu sama.
b.
Paralesasi,
yaitu menganggap paralel konsep yang berasal dari Al-Quran dengan konsep yang
berasal dari sains karena kemiripan konotasinya, tanpa menyamakan
(mengidentikkan) keduanya.
c.
Komplementasi,
yaitu antara sains agama saling mengisi dan saling memperkuat satu sama lain,
tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing.
d.
Komparasi,
yaitu membandingkan konsep/teori sains dengan konsep/wawasan agama mengenai
gejala-gejala yang sama.
e.
Induktifikasi,
yaitu asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh
temuan-temuan empirik dilanjutkan pemikirannya secara teoritis abstrak kearah
pemikiran metafisik/gaib.
f.
Verifikasi,
yaitu mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan
membuktikan kebenaran-kebenaran (ayat-ayat) Al-Qur’an
4.
Fuad Nashori
Menurut
Nashori, ilmu pengetahuan dalam islam bukan hanya bekerja pada wilayah yang
teramati (observable area), tapi juga bekerja pada wilayah yang terpikirkan
(conceivable area) dan wilayah yang tidak terpikirkan (unconceivable area). Hal
ini memaksa dirinya untuk membuat secara garis besar metode-metode psikologi
islam sebagai berikut :
a.
Metode
keyakinan (method of tenacity)
b.
Sumber yang sah
dan harus diyakini adalah wahyu ilahi yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Dari dua
pokok rujukan ini kemudian berupaya untuk menangkap pesan-pesan psikologis yang
terkandung.
c.
Metode
rasionalisasi
d.
Kerelatifan
rasio harus dijadikan landasan bahwa rasio dapat mengungkakp hal-hal yang
berbentuk (tipu muslihat), perencanaan atau strategi dan koreksi.
e.
Metode ilmiah
(method of science)
f.
Meneliti
(observe) hal-hal yang dibatasi oleh ruang lingkup benda-benda yang bersifat
inderawi (observable fact).
g.
Metode
non-ilmiah
h.
Metode non
ilmiah itu ada fenomenanya dan perlu untuk mendapat perhatian jika ada indikasi
kepada daya guna dan bermanfaat bagi kepentingan manusia dan seluruh makhluk.
i.
Psikologi
islami tidak diam (stagnan) pada sebatas pemahaman hakikat sesuatu, tetapi
lebih menekankan pada aktivitasmerasakan dan mengalami.
Pada tahun 1909 para ahli psikologi mengadakan konferensi di Jenewa
dan diantara hasilnya adalah memperkenankan tinjauan psikologis terhadap
fakta-fakta keagamaan manusia. Karena penelitian terhadap keberagamaan orang
tidak akan menyinggung kehormatan dan kemuliaan agama.
Mengenai psikologi agama yang khusus tentang Islam, terdapat
berbagai tulisan. Pada tahun 1955, Abdul Mun’in Abdul Aziz Al-Malighy menulis
buku dengan judul Tathawwur al-Syu’ur ad-Diin ‘Indat Tifl wa al-Muraahiq
(Perkembangan rasa keagamaan pada anak dan remaja). Dan berdasarkan konteks
kejiwaan, buku ini dapat dianggap sebagai awal dari munculnya kajian psikologi
agama di kalangan ilmuwan muslim modern.
Karya lain yang lebih khusus mengenai psikologi agama adalah Ruh
al-Din al-Islamy (Jiwa Agama Islami) karangan Alif Abd al-Fatah tahun 1956.
Demikian pula pada tahun 1963 terbit buku Al-Shihah al-Nafsiyah karangan
Moustafa Fahmy. Hasan Muhammad Asy-Syarqawy dengan judul bukunya Nahwa ‘Ilmi
Nqfsi Islamiy yang terbit tahun 1979, Youth and Moral karya Mujtaba Musawi Lari
yang terbit tahun 1990, dan Islam’s Treatment for Anxiety and Worry karya
Muhammad Salih al-Munajjid yang terbit tahun 1999. Dapat dipahami bahwa
tampaknya memang perkembangan psikologi agama di dunia Islam baru tampak
sekitar abad ke-20.
Keberadaan psikologi di Indonesia mulai pada tahun 1952, meski
memiliki sejarah yang jauh lebih pendek dari keberadaan psikolog di Negara
Barat, namun psikologi di Indonesia jelas menjadi sebuah kebutuhan yang sangat
vital dalam dunia kesehatan, bisnis, kesehatan, politik, pendidikan, social
dsb. Pendidikan psikiologi juga mulai di perkenalkan kembali memulai pembukaan
fakultas pendidikan di UGM yang kemudian merubah menjadi Intitut keguruan dan
ilmu pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pengembangan
psikilogi di indonesia, harus sesuai dengan kerangka yang telah di tetapkan
oleh pemerintah dan HIMPSI (Himpunan psikolongi Indonesia ) yang sejak tahun
1998/ 1999 sudah mempunyai beberapa di antaranya IPS dan Assosia Psikologi
industri dan Organisasi (Apio).
Psikologi agama pada awalnya lebih banyak dikenal oleh kalangan
gereja untuk kepentingan pelayanan terhadap jemaat mereka. Di kalangan umat
Islam boleh dikatakan yang memperkenalkan psikologi agama sebagai suatu
disiplin ilmu adalah Prof Dr. Zakiah Daradjat dengan bukunya Ilmu Jiwa Agama
yang terbit pertama kali pada tahun 1970. Karya fenomenal lainnya adalah Agama
dan Kesehatan Jiwa oleh Prof. Dr. Aulia (1961), Islam dan Psikosomatik oleh
S.S. Djam’an, Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister pada
tahun 1982 yang kemudian pada tahun 1989 diterbitkan pula dengan judul
Psikologi Agama. Kemudian Al-Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa
oleh Dadang Hawari, dan sebagainya.
Pada tahun 1986 Y. B. Mangunwijaya menerbitkan pula buku dengan
judul Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak yang berisikan cara memandu
pertumbuhan jiwa keagamaan pada anak-anak. Tahun 1992 terbit pula buku
Psikologi Hidup Rohani yang ditulis oleh F. Mardi Prasetya. Pembahasan dalam
bukunya lebih mengarah kepada segi-segi pelayanan pastoral.
Pada tahun 1997 terbit pula buku Psikologi Agama yang ditulis oleh
Jalaluddin. Khusus psikologi Islam dapat dikemukakan antara lain Psikologi
Islami yang ditulis oleh Djamaluddin Ancok dan Fuat Nashori Suroso terbit tahun
1994,Nuansa-nuansa Psikologi Islami yang ditulis oleh Abdul Mujib dan Jusuf
Mudzakir yang terbit pertama kali tahun 2001, serta Kreativitas dalam
Perspektif Psikologi Islami karya Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sejak menjadi disiplin
ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat,
dibandingkan usianya yang masih tergolong muda. Hal ini di sebabkan, selain
bidang kajian menyangkut kehidupan manusia secara pribadi maupun kelompok,
bidang kajiannya juga menyangkut permasalahan perkembangan usia manusia. Selain
itu sesuai bidang cakupannya, ternyata psikologi agama termasuk ilmu terapan
yang banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Tampaknya para ilmuan dan agamawan yang semula berselisih pendapat
mengenai psikologi agama, kini seakan menyatu dalam kesepakatan yang tak
tertulis, bahwa dalam kehidupan modern ini, peran agama menjadi kian penting.
Dan pendekatan psikologi agama dapat di gunakan dalam memecahkan berbagai
problema kehidupan yang di hadapi manusia sebagai makhluk yang memiliki
nilai-nilai peradaban dan nilai moral.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Dapat
dipahami bahwa psikologi agama sebagai suatu disiplin ilmu yang diteliti dengan
metode ilmiah merupakan ilmu yang masih sangat muda. Psikologi agama sebagai
disiplin ilmu yang tumbuh pada abad ke-19 kini semakin banyak diminati orang.
Berbeda dengan disiplin ilmu lainnya, ilmu ini meneliti hubungan manusia dengan
kepercayaannya (agama) dari sudut kejiwaan.
Dalam
usianya yang menjelang seabad ini tampaknya psikologi agama kian diterima oleh
berbagai kalangan termasuk para agamawan yang semula menggugat keabsahannya
sebagai disiplin ilmu yang otonom. Sejalan dengan hal itu, maka kemajuan dan
pengembangan psikologi agama di lapangan pendidikan dinilai banyak membantu
pemahaman terhadap permasalahan keagamaan dalam kaitannya dengan tugas-tugas
kependidikan. Begitu juga dalam bidang dakwah, seperti dakwah Islam, dimana
psikologi agama sangat membantu tokoh agama ataupun ulama dalam menyampaikan
ajaran agama. Selain itu, sesuai dengan bidang cakupannya, ternyata psikologi
agama termasuk ilmu terapan (applied science) yang banyak manfaatnya dalam
kehidupan sehari-hari. Pendekatan psikologi agama dapat digunakan dalam
memecahkan berbagai problema kehidupan yang dihadapi manusia sebagai makhluk
yang memiliki nilai-nilai peradaban dan nilai moral, khususnya dalam bidang
pendidikan dan dakwah Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
Baharuddin dan
Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, Malang: Uin Malang Press,
2008.
Jalaluddin,
Psikologi Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Ramayulis,
Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Ramayulis,
Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Akyas Azhari,
Psikologi, teraja Mizan, jakarta, 2004
Ancok Djamaludin
Dkk, Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cetakan Ii, 1995
Arifin Syamsul
Bambang, Psikologi Agama; Bandung, CV.Pustaka Setia : 2008
Darajat Zakiah,
Ilmu Jiwa AgamA;Jakarta, Bulan Bintang : 1970
Jalaluddin,
Psikologi Agama; Jakarta. PT.Raja Grafindo Persada : Jakarta : 2004
Ramayulis,
psikolog Agama, 2002, jakarta : kalam Mulia
Sapuri Rafi,
Psikologi Islami (Tutntunan Jiwa Manusia Modern), Jakarta, Rajawali Pers, 2009
Yahya jaya, Peran Taubat Dan Maaf Dalam Kesehatan Mental, Jakarta :
Ruhama, Cet. II, 1992

Komentar
Posting Komentar