RUTINAN MALAM SABTU MASJID JAMIE AT-TAQWA


 

        Jum'at 15 januari 2021, dikutip dari ketua DKM MASJID JAMIE AT TAQWA(Ustadz Yusup), beliau menerangkan bahwa Pengajian Malam Sabtu, dulunya bertempat di MASJID JAMIE AT-TAQWA, tempat ini dipilih oleh penggagas Pengajian Malem Sabtu yaitu Bapak Dimyati (Purn) beliau adalah seorang tentara yang bertugas sebagai BABINSA di Desa Sabandar dimasa Kepala Deas Sabandar Bapak Hidayat, karena dimasa itu MASJID JAMIE AT-TAQWA adalah satu satunya masjid yang terdekat jaraknya dengan Kantor Kepala Desa Sabandar yang Ketua DKM nya yaitu Kyai Bakhri ,hal ini bertujuan menggiring anak muda yang sebelumnya berkeluyuran di malam hari supaya bergiatan positif.

           Pada awalnya Pengajian Malem Sabtu ini bertujuan mengumpulkan para pemuda Desa Sabandar khususnya para pemuda di Kampung Cisaat itu sendiri supaya para pemuda dapat diarahkan pada kegiatan positif khususnya dibidang agama.Lebih lanjut Tokoh masyarakat Kampun Cisaat yaitu M.Salim, menerangkan "bahkan sebelum Pengajian Malam Sabtu di mulai para pemuda senantiasa berkumpul dan membacakan kitab barjanzi atau deba'.Hal lain juga dikuatkan oleh salah seorang tokoh masyarakat Kampun Cisaat yaitu H.Iskandar ( Haji Ece),bahkan bila ada pemuda yang membandel dan tidak mau pergi ke pengajian maka Bapak Dimyati (Purn) senatiasa menggiring para pemuda yang sedang berkeliaran supaya pergi ke pengajian.Cara ini pula yang membentuk kedisiplinan pada diri para pemuda agar senantiasa selalu hadir dalam Pengajian Malam Sabtu.

        Para pemuda yang menjadi jama'ah Pengajian Malam Sabtu kala itu terdiri dari para pemuda Kampung Cisaat Kulon dan Kampung Cisaat Tengah,bahkan Kampung Cisaat Wetan pun menghadiri Pengajian Malam Sabtu ini,walaupun sebetulnya bila dilihat dari segi keilmuan agama Kampung Cisaat Wetan bisa dikatan sebagia gudangnya para Kyai dan Santri, namun karena ketaatannya pada perintah pemerintahan yang sejalan dengan perintah agama,maka para pemuda Kampung Cisaat Wetan pun senatiasa hadir di Pengajian Malam Sabtu."Ini menjadi tolak ukur,bagaimana setiap acara Peringatan Hari Besar Islam seperti "Muludan"dan "Rajaban" di MASJID JAMIE AT TAQWA senatiasa dihadiri banyak jama'ah" begitulah ujar Ustadz Yusup.

        Walaupun penekanan yang tinggi dari Bapak Dimyati (Purn) kepada pendidikan agama,hal tersebut tidak menggangu pada kebudayaan yang ada di Desa Sabandar,khusunya kampung Cisaat, yang mana pada saat itu kebudayaan yang sekaligus hiburan masyarakan yaitu MAENPO.Bukti dari tidak terganggunya kebudayaan MAENPO SYABANDARAN yaitu kita masih bisa melihat anak muda berlatih MAENPO sampai saat ini,walaupun sekarang tidak banyak peminatnya, hal tersebut dikarenakan dengan kemajuan teknologi yang tidak di imbangi dengan kearifan lokal yang terdapat di Desa Sabandar.

            Didikan dan tekanan yang yang dilakukan Bapak Dimyati (Purn) yang tinggal saat ini yaitu di Kp. Sabandar Kidul, Desa Sabandar ini justru yang membuat Pengajian Malam Sabtu ini masih tetap bertahan dan terlaksana sampai saat ini.Bila dilihat Pengajian Malam Sabtu ini bertahan karena yang dulunya para pemuda diwaktu itu yang sekarang menjadi sesepuh dimasa sekarang di MASJID JAMIE AT TAQWA,bukan para pemuda pada generasi saat ini,bahkan generasi pemuda saat ini bagai tak satu pun batang hidungnya yang terlihat."Ke khawatira kami sekarang adalah generasi penerus dari Pengajian Malam Sabtu ini" ujar Ustadz Yusup (Ketua DKM MASJID JAMIE AT TAQWA) sambil mengelus dada menahan sabar.Selain itu M. Junani menambahkan "Bisakah pemerintah saat ini melakukan tekanan kepada masuarakat supaya datang ke Pengajian Malam Sabtu,seperti yang dilakukan oleh Bapak Dimyati (Purn), supaya para pemuda dapat kembali berkumpul dan bercengkarama di dalam lingkungan masjid."

             Mengambil hikmah dari kutipan para tokoh masyarakat dan tokoh agama diatas,maka kita sebagai generasi muda seharusnya malu dengan apa yang kita lakukan, hanya memainkan gadget kita bisa menghabiskan waktu hingga,padahal banyak hal yang lebih bermanfaat yang harus kita lakukan.Kita harus berpikir lebih maju ke depan dengan memperat silaturahmi dalam lingkup pengajian malem sabtu. Mereka (para pejuang) akan lebih senang bila kita mengahargai pengorbanan mereka.Bapak Dimyati (purn) mengorbankan waktunya menggiring para pemuda ke pengajian agar tercipta generasi yang lebih baik.Pertanyaan besar bagi diri kita, " Apakah kamu senang bila disebut generasi suram,karena jauh dari ajaran agama?". Jadilah manusia yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH TERBENTUKNYA DESA SABANDAR

Konsep Dasar Pembelajaran PAI

PONDOK PESANTREN DARU ULUMIDDIN