PERAN SEORANG IBU SEBAGAI PENDIDIK DI KELUARGA


 Ibu Sebagai Madrasah Utama Bagi Anak-anaknya

 

Sosok seorang ibu merupakan sosok yang sangat sakral pada setiap hal,bahkan induk hewan buas pun tak akan mencelakakan anaknya. Didalam lingkungan keluarga seorang ibu bagaikan selimut yang membuat nyaman setiap orang yang menggunakannya. Memberikan perlindungan dari dinginnya udara dimalam hari sehingga memberikan kenyaman saat tidur.Seorang ibu adalah bagaikan madrasah “sekolah” yang paling utama bagi para anaknya,didikan seorang ibu akan menjadikan anaknya baik,bila didikannya mengarahkannya pada nilai-nilai positif dan dipenuhi dengan ajaran agama yang sangat kental,namun sebaliknya kala seorang ibu tidak tepat dalam mendidik anak-anaknya.

Rasulullah SAW bersabda “Seorang ibu adalah sekolah utama,bila engkau telah mempersiapkannya dengan baik ,maka engkau telah mempersiapkan generasi yang lebih baik” “Seorang ibu adalah sekolah utama,bila engkau telah mempersiapkannya dengan baik ,maka engkau telah mempersiapkan generasi yang lebih baik”.Dari hadist Rasulullah SAW diatas maka baik dan buruknya generasi baru itu tergantung seorang ibu.Bahkan lebih jauh lagi maju atau terpuruknya suatu negara tergantung seorang ibu.Hal tersebut merupakan suatu kehormatan untuk mengemban tugas yang sangat berat.Menurut Prof. Dr. H. Agus Salim Mansyur, M.Pd. dalam buku “ILMU PENDIDIKAN ISLAM” berpedapat bahwa seorang ayah berkewajiban mendidik anak-anaknya, demikian pula dengan seorang ibu,wajib mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya .Suami harus menjadi teladan bagi istrinya, dan menjadi pemimpin yang mengayomi. Sedangkan istri harus taat dan berbakti kepada keluarganya dengan dasar ilmu agama. Namun akhir-akhir ini tidak sedikit seorang anak yang tidak menghargai perjuangan seorang ibu,bahkan banyak kasus seorang anak yang mencelakai bahkan berani menghilangkan nyawa ibu kandungnya sendiri.

Pada zaman zahiliyah sebelum Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini,seorang ibu atau wanita pada umumnya sangat tidak dihargai sama sekali,bahkan merasa malu dan terhina bila memiliki seorang anak perempuan.Setelah Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia,pada saat itulah seorang perempuan terlebih lagi seorang ibu sangat dihargai dan dihormati,bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa “Surga berada di telapak kaki ibu” yang berarti bahwa seorang anak akan mendapatkan Ridho Allah SWT bila orang tuanya telah meridhoinya,terutama ridho seorang ibu,karena ada hadits yang diriwayatkan Bukhori Muslim,kala itu ada seorang shahabat yang bertanya” Ya Rasulallah siapa yang paling pantas aku hormati didunia ini”.Kemudian Rasulullah SAW menjawab “Ibumu”.Kemudian shahabat bertanya lagi “Kemudian siapa lagi?”. Rasulullah SAW pun kembali menjawab “Ibumu”.Shahabat kembali bertanya dengan penuh penasaran “Kemudian siapa lagi Ya Rasulullah?”.Kemudian Rasulullah menjawab “Ibumu,kemudian Ayahmu”.Justru saat ini kembali seperti pada zaman jahiliyah, dengan tidak dihargainya seorang perempuan.

Setelah kita ketahui banyak kasus seorang anak yang membunuh ibu kandungnya, terdapat beberapa alasan yang menjadi motif pembunuhan tersebut,namun pada initinya seorang anak berani membunuh ibunya, karena kurangnya pendidikan agama dan akhlak maupun budi pekerti, kasus yang cukup hangat saat ini seperti kasus Isabella Gusman, pelaku membunuh ibu kandungnya sendiri karena merasa kesal, hal tersebut tidak akan terjadi bila pelaku mendapat pendidikan agama dan akhlaknya dengan baik. Beberapa ahli sosial mengemukakan hasil temuannya tentang mengapa dizaman sekarang,dizaman serba digital ini banyak anak yang mencelakakan atau bahkan sampai membunuh ibunya?,ternyata tidak sedikit ditemukan bahwa akibat pendidikannya yang kurang baik terutama dimasa emas tumbuh kembang anak.Masa emas tumbuh kembang anak inilah yang paling berperan adalah seorang ibu.Seorang ibu harus dapat menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan akhlak mulia supaya anak tidak terbawa arus globalisasi dilingkungan yang kurang baik.

Setiap negara didunia memperingati “Hari Ibu” pada tanggal 22 Desember 2020 termasuk Indonesia, tetapi kasus pembunuhan ibu masih marak terjadi. Di Indonesia sendiri hampir setiap daerah terjadi kasus tentang pembangkangan terhadap ibu itu sendiri. Padahal bila dilihat dari segi kebudayaan di Indonesia sangat kental dengan kebudayaan yang diharuskan menghargai seorang ibu,sebagai contoh seorang anak di haruskan sungkem (meminta maaf dan restu orang tua, sambil menempatkan kepalanya dipangkuan orang tua) kepada orang tuanya,termasuk ibunya pada saat prosesi penikahan. Namun hal tersebut sama sekali tidak berdampak kepada akhlak anak iu sendiri, karena budaya sungkem itu sendiri hanya sebagai prosesi, tidak di maknai dengan makna yang sesunguhnya, yaitu untuk menghormati orang tua. Hal tersebut dapat kita simpulkan bukan prosesi budayanya yang menjadikan anak menjadi lebih baik, tetapi pendidikan agama dan akhlaklah yang menjadi penunjang penuh menjadikan anak menjadi lebih baik. Prof. Dr. H. Agus Salim Mansyur, M.Pd. dalam buku “ILMU PENDIDIKAN ISLAM” bahwa pokok-poko pendidikan Islam dalam keluarga adalah membantu aanak-anak memahami posisi dan perannya masing-masing,membantu anak-anak mengenal dan memehami norma-norma Islam agar mampi melaksanakannya untuk memperoleh rida Allah SWT. Hal ini sudah hilang di Indonesia, karena hilangnya sikap budi pekerti dan akhlak yang pada anak-anak di Indoesia.

Tentang bagaimana solusi dari kasus banyak anak yang membangkan dan kurangnya menghormati ibu kandungnya. Pada dasarnya solusi atas hal diatas adalah pendidikan di lingkungan keluargalah yang berperan banyak bagi seorang anak. Pemerintah sebai lini sektor harus membuat program yang meberdayakan pendidikan informal, bukan hanya formal saja yang diperhatikan. Seperti penekanan kepada setiap keluarga supaya memberikan pendidikan agama khususnya akhlak pada setiap anak dan memasukan anak kepada lembaga-lembaga yang mengajarkan anak supaya akhlak lebih baik, seperti pondok pesantren.

Setiap anak harus menyadari dan faham atas setiap tugasnya, yaitu menhormati dan mengahargai orang tua. Mudah-mudahan kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua dengan cara menhormati dan membuat karya-karya yang bermanfaat bagi khalayak ramai. Menjauhi hal-hal yanh merugikan orang lain. Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu merubah sendiri.

 

 

                                                                                                Cianjur, 24 Desember 2020

                                                                                                Penulis, Asep Sobandi


                                                                                                       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH TERBENTUKNYA DESA SABANDAR

Konsep Dasar Pembelajaran PAI

PONDOK PESANTREN DARU ULUMIDDIN