Jawara Sabandar
Silat Sabandar yang diajarkan oleh Mama Kosim telah lebur dengan silat yang ada di Tanah Sunda. Tokoh lain yang berpengaruh besar terhadap perkembangan silat Sabandar adalah Kari dan Madi. Silaturrahmi yang saling mengguntungkan antara dua ahli silat telah melahirkan aliran baru, sehingga sudah sulit membedakan mana silat yang asli diajarkan oleh Mama Kosim, mana yang berasal dari ajaran Kadi dan Madi.
Disamping peleburan gerakan fisik, peleburan aspek spiritual tentu saja tidak bisa dihindarikan dari silaturahmi tokoh-tokoh silat ini. Jika Mama Kosim berasal dari Ranah Minangkabau, maka Mama Kosim sudah dapat dipastikan memiliki kemampuan silat secara fisik dan juga memiliki aspek-aspek spritualnya, karena di dalam pepatah Minangkabau mengatakan bahwa nan lahia babatin ( yang lahir memiliki aspek batinnya).
Di zaman beliau hidup tersebut tidak mungkin silat di Minangkabau diajarkan tanpa diberi isi. Isi itu lebih berdekatan ke arah pengajian tarekat setelah dipengaruhi Islam, dalam hal ini blh dikatakan dasarnya dari tarekat yang dominan di Sumatera Barat di zaman itu, yakni Satariah (Syaththariyyah), Naqsabandiyah dan Samaniah. Pada zaman sebelum Islam, isi tersebut dipengaruhi oleh campuran antara ajaran kepercayaan animisme/dinamisme dengan ajaran Hindu dan Budha. Setelah Islam masuk, sisa-sisa dari warisan sebelum Islam masih blh terbaca di dalam beberapa patah kata dari sebagian besar mantera-mantera yang digunakan di Minangkabau oleh pengamalnya.
Tarekat Samaniah hanya berkembang di daerah Luhak (Kabupaten) Limapuluh Kota dengan ibu kota Payakumbuh, sedangkan dua tarekat lain berkembang ke wilayah lain di Minangkabau bahkan sampai ke daerah rantau ( di sekitar Sumatera Barat saat ini bahkan sampai ke Malaysia). Salah satu ajaran dari Satariah adalah takhalli (kosongkan dari keburukan), tahalli (isi dengan kebajikan) dan tajalli (kehadiran cahaya ilahi di dalam diri pengamalnya). Sementara itu tarekat samaniah yang menggunakan anggota tubuh secara aktif menyatu ke dalam gerakan silat, jadi zikir itu sendiri adalah gerakan pada silat. Bagaimanapun, diperlukan kajian lebih dalam bagaimana pengaruh kajian tarekat di dalam silat Sabandar yang ada saat sekarang dan dibandingkan dengan sumbernya di Ranah Minangkabau.
Permainan menggunakan rasa juga dikenal di dalam terminologi silat di Minangkabau, negeri asal Moh Kosim, yakni mamakai garak jo raso (menggunakan insting dan rasa) pada tingkat mahir. Pada level ini pesilat sudah menggunakan ketajaman rasa dan bersilat dengan gerakan cepat, tepat dan baik tanpa perlu dipikirkan dulu. Kata ‘rasa’ ini dapat diibaratkan dengan seorang pemandu kereta yang menggunakan kombinasi rem, jalan dan petrol dengan baik dan lembut meskipun telah melaju dengan sangat kencang dan dapat berhenti tanpa harus terhentak. Kata ‘rasa’ di dalam Bahasa Minangkabau juga blh dipakai untuk seorang tukang masak yang mahir yang boleh menghasilkan masakan enak tanpa harus menimbang satu-satu bahan mentahnya seperti yang dilakukan oleh seseorg pesilat pada tahap belajar.
Adapun jurus-jurus itu adalah : Keupeul Penyaluran Pancingan Liliwatan Dongkak Lakang Persilatan Jurus Lima atau yg biasa dikenal dengan Jurus Syahbandar dikenal dengan beberapa nama antara lain; Langkah Empat (langkah ampek), Jalan lima, Gerak Anu Opat Kalima Pancer, Gerak Sabandar, Gerak Asror, Gerak Panca Tunggal,jurus halilintar dll. Dahulu dikenal dari Moh. Kosim sebagai Sabandar, berasal dari Pagaruyung Sumatra Barat. Sementara itu menurut penyelidikan KiSawung secara langsung ke Bukit Tinggi-Padangpanjang-Batusangkar, yg mana dalam hal ini beliau telah dibantu oleh Bpk. Drs.Mid Djamal (pensyarah ASKI Padangpanjang).
Beliau telah mendapat banyak keterangan yang menarik tentang aliran2 silat/pencak Minangkabau daripadanya. Bpk. Drs.Mid Djamal adalah juga penulis dari sebuah buku yang berjudul “Aliran-aliran Silat Minangkabau”. Bahawasanya dalam aliran2 silat Minang terdapat aliran silat tenaga dalam, beliau menyebutnya lebih tepat dengan istilah tenaga batin. Di Minang kaedah tersebut dikenali dengan nama Ilmu Gayung. Ilmu Gayung ada dua jenis yaitu Gayung Zahir dan Gayung Batin (gayung bersambut dan gayung tak bersambut). Silat Minang itu dirangkum dari “4 aliran” : – Silat Harimau Campo, yg berasal dari Champa Silat Kucieng Siam, yg berasal dari Siam Silat Kambieng Utan, yg berasal dari Bhutan Silat Anjueng Mualiem , yg berasal dari Persia. Yang kemudian oleh Nini Datuk Suri Dirajo disempurnakan menjadi Silek Tuo pada sekitar tahun 1190 M. RIWAYAT HIDUP MOH. KOSIM AMA SABANDAR Dilahirkan pada tahun 1766 di Pagaruyung (Minangkabau Timur), meninggal pada tahun 1880 dimakamkan di Wanayasa, Purwakarta, Jawa-Barat. Bererti umurnya mencapai 114 tahun.
Menurut keterangan dari Bpk.Letkol Ckh. Abdur Rauf,SH (Sesepuh Pusaka Paguron Cikalong / PPC / Cianjur) Beliau pernah mendengar keterangan dari para Sesepuh Cikalong terdahulu bahawasanya Moh Kosim itu diusir dari Pagaruyung kerana mengajarkan Silat Pusako kepada orang kebanyakan / masyarakat awam yg bukan Bangsawan atau keluarga kerajaan. Diceritakan pula pada masa itu, Moh Kosim adalah seorang pemuda bangsawan yang punyai kegemaran berlumba perahu dengan orang kebanyakan, pergaulannya sehari-hari sangat dekat dengan masyarakat bawah. Apalagi masa itu banyak terjadi ketidak adilan yg dilakukan penguasa kerajaan terhadap rakyatnya.
Sehingga atas dasar itulah mengapa seorang pemuda bangsawan kerajaan, menjadi terketuk hatinya untuk mengajarkan pusako pentjak, yang menjadi simbol kebanggaan yg sangat diimpi2kan setiap pemuda minang. Sehingga semakin ramailah para pemuda minang yang belajar pentjak, dan hal ini kemudian menjadi tersebar kepada pihak kerajaan yang menjadi terganggu dan merasa kuatir terancam secara tak langsung, kerana mula merasakan ancaman secara tidak langsung dari masyarakat. Kemudian akhirnya terjadi perselisihan faham antara Moh Kosim dengan keluarganya mengenai masalah “peraturan pentjak. Moh Kosim dianggap telah menyalahi peraturan, kerana tidak boleh mengajarkan pusako kepada orang kebanyakan. Dan kerananya (juga akibat fitnah dan tekanan dari pihak kerajaan) diambillah keputusan hukuman baginya, diusir dari Pagaruyung. Sehingga pelajaran pentjak kepada orang kebanyakan menjadi tidak selesai dan tidak sempurna. Dengan demikian ia bukan lagi menjadi ancaman bagi pihak pemerintah untuk melanjutkan penindasannya kepada kaum lemah.
Dalam kepiluan hatinya terusir & pergi meninggalkan kampung halamannya, Moh Kosim naik kapal kompeni menuju ke Batavia. Di kapal terjadilah suatu kejadian yang tidak diduga, entah kerana sebab apa, terjadilah pertarungan antara Moh Kosim melawan salah satu jaguh kompeni. Dengan hanya satu kali gerakan saja, pecahlah kepala jaguh kompeni itu dihentamnya. Diceritakan selanjutnya sesampainya di Batavia, Moh kosim terpinga-pinga tidak mempunyai kegiatan dan pekerjaan berjalan tanpa arah dan tujuan mengikuti langkah kaki sahaja sehingga akhirnya sampailah di suatu tempat Desa Karang Tengah Cianjur. Disanalah beliau dipanggil oleh pemilik perkebunan / tuan tanah , R.H.Enoch untuk diberikan pekerjaan sebagai penjaga danau dan kebun kelapa. Kemudian saat menjalankan tugasnya inilah terjadi lagi pertarungan berkali-kali antara pemuda minang ini melawan gerombolan perompak dan pengacau, yang selalu berakhir dengan tewasnya para perompak tersebut. Menjadi berita yg menggegarkan dilingkungan tersebut sehingga menjadi perhatian R.H.Enoch. Memanglah dari sejak awal RH Enoch memanggil Moh Kosim, telah melihat ada sesuatu yang lain dari sikap tutur bahasa dan penampilannya. Dan peristiwa demi peristiwa yang terjadi di perkebunan telah membuatkan RH Enoh untuk menanyakan siapakah sebenarnya Moh Kosim. Sehingga terbukalah jati diri seorang Pemuda Bangsawan Dari Pagaruyung. Dan menurut keterangan selanjutnya, atas dasar inilah kemudian Moh Kosim dijadikan menantunya.
Dalam masa yang sama juga RH Enoh ikut mempelajari pentjak minang, serta Moh Kosim dijadikan sebagai guru pentjak untuk mengajarkan kepada sanak kerabat RH Enoh. Kemasyhuran namanya inilah dikatakan menjadi sebab tertariknya Abang Kari dan Abang Mahdi serta Mbah Khaer untuk saling ber “Silaturrahmi” Dalam erti kata saling “bersilat”. Dan disampaikan kejadiannya sangat di luar kemampuan akal dengan gambaran terjadinya pertarungan diantara sesama mereka selama 3 hari berturut-turut, bahkan ada yang mengatakan sampai 7 hari. Dan kesudahannya, “tiada yang kalah dan tiada yang menang”. Dan ia menjadi penyebab terjalinnya persahabatan persaudaraan yang erat diantara mereka. Dengan demikian, terwujudlah MAENPO SYAHBANDAR KARI-MAHDI yang tercipta dari sebuah keakraban mereka.
Maenpo Cikalong adalah perguruan silat yang sangat tua. Para sesepuh pendiri perguruan tenaga dalam pertama di Indonesia belajar disini. Andadinata dari Margaluyu. Nampon dari Trirasa Nampon. Dari Margaluyu dan Nampon muncul banyak sekali perguruan tenaga dalam se Indonesia. Telah disepakati oleh kalangan tokoh pencak silat bahwa pencipta dan penyebar pertama aliran pencak silat Cikalong adalah R. Jayaperbata yang kemudian berganti nama menjadi R. Haji Ibrahim (1816-1906) setelah beliau berziarah ke Tanah Suci. R.H. Ibrahim adalah keturunan bangsawan Cianjur.
Sejarah terbentuknya aliran ini, menurut beberapa sumber dimulai ketika R.H. Ibrahim berguru kepada kakak iparnya sendiri (suami Nyi Raden Hadijah, kakak R.H. Ibrahim) yaitu R. Ateng Alimuddin, seorang saudagar kuda dari Jatinegara. Permainan pencak silat R. Ateng Alimudin sendiri adalah Cimande Kampung Baru. Atas perunjuk R. Ateng Alimudin, R.H. Ibrahim kemudian disarankan untuk melanjutkanpelajarannya pada Bang Ma’ruf, seorang guru pencak silat di Kampung Karet, Tanah Abang, Jakarta. R.H. Ibrahim yang juga mempunyai usaha jual beli kuda kerap kali pulang pergi antara Cianjur dan Jakarta. Sewaktu berada di Jakarta, dimanfaatkannya untuk belajar pencak silat dari Bang Ma’ruf. Ketika sedang belajar di Bang Ma’ruf, secara tidak sengaja R.H. Ibrahim berkenalan dengan tetangga Bang Ma’ruf yang bernama Bang Madi, seorang penjual kuda yang berasal dari Pagarruyung, Sumatra Barat. Setelah berkenalan dan akhirnya bersambung tangan, akhirnya diketahui bahwa Bang Madi adalah seorang ahli pencak silat yang sangat tangguh. Sejak saat itu, tanpa sepengetahuan Bang Ma’ruf, R.H. Ibrahim mulai berguru kepada Bang Madi. Karena R.H. Ibrahim adalah seorang bangsawan yang cukup kaya, maka agar lebih leluasa, Bang Madi langsung didatangkan ke Cianjur untuk mengajar di sana. Segala keperluan hidup untuk keluarganya ditanggung oleh R.H. Ibrahim.
Dari Bang Madi diperoleh ilmu permainan rasa, yaitu sensitivitas atau kepekaan rasa yang positif sehingga pada tingkat tertentu akan mampu membaca segala gerak lawan saat anggota badan bersentuhan dengan anggota badan lawan, serta segera melumpukannya. Menurut beberapa tokoh, salah satu ciri atau kebiasaan dari Bang Madi adalah mahir dalam melakukan teknik “bendung” atau menahan munculnya tenaga lawan, di samping “mendahului tenaga dengan tenaga”. Di kalangan aliran Cikalong teknik ini disebut “puhu tanaga” atau “puhu gerak”. Setelah dianggap mahir, atas petunjuk Bang Madi, R.H. Ibrahim disarankan untuk menemui seorang tokoh dari Kampung Benteng, Tangerang yang bernama Bang Kari. Sebelum diterama menjadi murid, R.H. Ibrahim sempat dicoba dahulu kemampuannya. Bang Kari pun kemudian mengetahui bahwa yang datang kali ini adalah orang yang sangat berbakat dan mempunyai masa depan yang cemerlang di dunia persilatan. Dari Bang Kari, R.H. Ibrahim mendapatkan (ulin peupeuhan) ilmu pukulan yang mengandalkan kecepatan gerak dan tenaga ledak.
Selain dari keempat tokoh pencak silat dia tas, R. H. Ibrahim banyak berguru pada tokoh-tokoh lain. Ada yang mengatakan sampai tujuh belas orang guru, bahkan ada juga yang mengatakan lebih dari empat puluh orang guru. Dari hasil berguru tersebut kemudian R.H. Ibrahim melakukan perenungan selama tiga tahun dengan cara sering berkhalwat di sebuah gua di kampung Jelebud, di pinggir sungai Cikundul Leutik, Cikalong Kulon, Cianjur. Dari Sinilah mulai terbentuk cikal bakal aliran Cikalong. Nama aliran Cikalong diberikan oleh para pengikutnya dengan mengambil nama tempat tinggal R.H. Ibrahim atau tempat mulaialiran pencak silat ini disebarkan. Yang menarik adalah pada saat yang sama di Cianjur juga terdapat seorang tokoh pencak silat bernama Muhammad Kosim asal Pagarruyung yang tinggal di Kampung Sabandar Cianjur (lebih terkenal dengan panggilan Mama Sabandar). Ia mengajarkan ilmunya kepada beberapa bangsawan Cianjur, yang juga merupakan murid R.H. Ibrahim, di antaranya adalah R.H. Enoh, sehingga pada Perkembangan selanjutnya di Cianjur terdapat aliran Cikalong –Sabandar. R.H. Ibrahim sendiri tidak pernah berguru kepada Mama Sabandar. Menurut beberapa sumber, mereka pernah bertemu dan bertanding di Purwakarta dan hasilnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, namun masingmasing saling mengakui kehebatan lawannya. Silsilah Leluhur RD. Haji Ibrahim Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar I (Kanjeng Dalem Cikundul) Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar II (Kanjeng Dalem Tarikolot) Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar III (Kanjeng Dalem Dicondre) Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar IV (Kanjeng Dalem Sabirudin) Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar V (Kanjeng Dalem Muhyidin) Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar VI (Kanjeng Dalem Dipati Enoh) Rd. Wiranagara (Aria Cikalong) Rd. Rajadireja (Aom Raja) Cikalong Rd. Jayaperbata (Rd. Haji Ibrahim) Beberapa penerus aliran ini adalah R.H. Enoh, R. Brata, R. Obong Ibrahim, R. Didi, R.O. Soleh, dan lain-lain.
Terdorong oleh rasa tanggung jawab serta menghindarkan terkuburnya aliran pencak silat ini karena meninggalnya atau akan meninggalnya para tokoh atau ahli pencak silat Cikalong yang saat ini masih hidup, juga untuk melestarikan aliran pencak silat ini, Abdur Rauf sebagai salah seorang keturunan langsung dan pimpinan Paguron Maenpo Raden Haji Ibrahim Djaja Perbata Cikalong, membuat suatu tulisan singkat mengenai “Sedikit Perkenalan Dengan Kaedah-kaedah Pokok Maenpo Cikalong. Aliran pencak silat (tepatnya pecahan aliran) yang dipengaruhi aliran Cikalong antara lain adalah aliran Cikaret dan Sanalika. Sedangkan perguruan yang mempelajari aliran ini di antaranya adalah Paguron Pusaka Cikalong (PPC) Cianjur, Paguron Pusaka Siliwangi, dan hampir semua perguruan pencak silat di jawa barat mendapat pengaruh aliran ini. R. Abad Moh. Sirod yang mendapat ilmu dari R. Busrin mengembangkan metode belajar pencak silat dengan menyusun 30 jurus dasar yang dikenal dengan istilah 27 jurus kajadian dan 3 jurus maksud. Jurus-jurus ini diambil dari kejadian maenpo (istilah lain untuk beladiri pencak silat).
Penjelesan selengkapnya disusun dalam buku yang berjudul Tuduh Kaedah Meanpo(Petunjuk Kaidah Pencak Silat). R. Obing yang belajar dari R.H. Ibrahim dan R. H. Enoh mengembangkan 5 jurus dasar yang menggunakan langkah dengan arah menyerong, mempelajari cara menyimpan dan memindahkan titik berat badan, serta menggabungkan gerak dengan teknik pernapasan. R.O. Saleh (Gan Uweh) yang belajar dari R. Idrus dan R. Muhyidin mengembangkan 10 jurus dasar, 3 pancer, jurus 7, dan masagikeun (kombinasi). Perguruan yang didirikannya adalah Paguron Pusaka Cikalong (PPC). R. Ateng Karta yang berasal dari Banyuresmi, Garut belajar dari R. Utuk mengembangkan 5 jurus dasar beserta beberapa pecahannya. Perguruan yang didirikannya adalah Perguruan Pencak Silat Sanalika. Dari beberapa contoh di atas dapat dilihat bahwa aliran pencak silat Cikalong berkembang dari generasi ke generasi berikutnya. Ada yang mengembangkannya di perguruan yang didirikannya dan ada pula yang tidak melalui perguruan (Individu).
Komentar
Posting Komentar